RSS

Arsip Kategori: Pasar Baru Trade Center

Pasar Baru

Perhentian pertama kita ini adalah sebuah pasar tradisional terbesar di kota Bandung yang kini telah menjelma menjadi sebuah ikon wisata belanja modern. Di dalam bangunannya yang besar, terdapat berbagai macam toko yang menjual beraneka macam dagangan, mulai dari keripik hingga tekstil.

Terletak di Jl. Otto Iskandardinata, tidak jauh dari alun alun kota Bandung, sekitar 10 menit dari Stasiun Kereta Kebon Kawung, 20 Menit dari Bandara Husein Sastranegara, dan 30 menit dari Terminal Bis Leuwipanjang dalam keadaan lalu lintas normal, tempat ini mudah dicapai dengan berbagai moda transportasi umum.

Sekedar informasi, lalu lintas di depan pasar baru seringkali macet, terutama pada jam pulang kerja ( mulai jam 4 sore ) dan hari sabtu, minggu, serta hari libur nasional.

Rute angkutan umum menuju Pasar Baru :

Dari Stasiun Kereta Kebon Kawung : Dari pintu utara, naik angkot warna hijau muda jurusan Gede Bage – St. Hall

Dari Bandara Husein Sastranegara : Naik taksi ( lebih praktis daripada harus jalan kaki sekitar 1km untuk naik angkot )

Dari Terminal Bis Leuwipanjang : Naik angkot jurusan Kelapa, turun di ITC kebon kelapa, Sambung angkot warna biru jurusan Kelapa – Sukajadi, minta turun di pabrik kopi aroma, dari situ tinggal lurus lewati jalan kecil

Selain tersohor karena berbagai koleksi tekstil impor dan lokal yang terlengkap dan terbaru, disini juga dapat ditemukan berbagai toko yang menawarkan aneka macam koleksi pakaian dan aksesori pria – wanita, perlengkapan anak, perlengkapan sekolah, makanan ringan, dan oleh oleh haji.

Di sekeliling bangunan modern Pasar Baru masih bisa kita temukan banyak bangunan tua bergaya campuran Eropa, Cina, dan Islam. Hal ini tentu saja karena pada jaman dulu, daerah ini menjadi tempat berbaurnya berbagai etnis yang berkumpul dan berdagang di kota Bandung. Tidak heran bila kebanyakan pedagang di kawasan ini telah menjalankan usahanya secara turun temurun lebih dari 1 abad lamanya.

Mumpung sedang disini, tidak ada salahnya kita coba cicipi kuliner tempo doeloe yang bertahan dan tersohor hingga sekarang, diantaranya :

– Es Goyobod Kuno 1949

Es Goyobod adalah minuman segar khas Jawa Barat yang hampir mirip dengan es campur. Yang membedakan adalah potongan – potongan hunkue yang unik, karena kenyal dan terasa dingin di lidah dan tenggorokan. Bercampur dengan potongan buah alpukat dan kelapa muda, rasanya sangat menyegarkan.

– Toko Osin

Ada yang sudah pernah coba bubur kacang hokian ?

Bubur kacang ini terbuat dari kacang tanah yang sebelumnya dikupas bersih, dan direbus dalam waktu yang lama hingga kacang sangat empuk, tetapi tidak sampai hancur. Cara memasak ini membuat bubur ini terasa manis dan lembut di mulut.

Makan bubur hokian akan terasa lebih enak ditemani dengan cakue berukuran besar yang selalu tersedia di toko ini, ukuran cakue yang lebih besar daripada yang dijual pedagang lain, membuat perut cepat kenyang.

Selain bubur hokian dan cakue, disini juga bubur ayam, pangsit kuah, dan beberapa penganan tradisional lainnya. Tapi sebelum membeli, harus berhati hati karena ada yang isinya mengandung babi.

– Gado Gado Bi Acim

– Sate Gule Abah Odjie

– Mie Kocok Subur

Setelah perut kenyang, saatnya berjalan jalan di sekitar Pasar Baru.

Berkeliling di sekitar Pasar Baru, banyak sekali toko yang menjual karpet, kain grosiran bahan pembuat kaus, aneka keperluan konveksi maupun produksi tas / sepatu, tempat produksi undangan dan kartu nama. Kebanyakan toko menjual barangnya dengan sistem grosir, meski ada juga beberapa toko yang memperbolehkan pelanggannya membeli eceran dengan harga yang juga murah.

Karena alasan inilah, banyak sekali pembeli yang berasal jauh dari luar kota bahkan luar negeri, apalagi setelah dibukanya penerbangan langsung antara Bandung – Singapore dan Bandung – Malaysia, para turis negara tetangga itu juga menambah ramai kawasan pertokoan ini.

Oya, satu hal yang saya perhatikan dari beberapa toko grosir yang menjual bahan baku untuk produksi kaus ataupun jaket, mereka menjual kain dagangannya bukan dalam ukuran panjang ( meter ) tetapi dalam ukuran berat ( kilogram ). Mungkin ini dilakukan dengan alasan kepraktisan, karena begitu banyak orang yang membeli dalam jumlah besar.

Berbelanja dalam jumlah besar, tentu saja membuat harganya menjadi semakin murah, tidak heran banyak pemilik konveksi maupun produsen kaus distro dari dalam dan luar kota yang membeli bahan bakunya di tempat ini.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 3, 2011 in Pasar Baru Trade Center, Wisata Belanja